news and press releases

People Management atau Talent Management

31 January 2018

BANYAK perusahaan merasa kesulitan dalam mencari talenta tertentu. Setelah merekrut kandidat terpilih, ternyata malah timbul berbagai masalah. Mulai dari  penyesuaian budaya, suasana kerja, hubungan dengan team kerjanya, sampai-sampai akhirnya kitapun menyalahkan diri sendiri, bahwa kita telah melakukan rekrutmen yang salah.

Dalam sebuah kasus talent pool di sebuah perusahaan, terdapat seorang top talent yang memang sangat menonjol kepandaiannya. Hal ini sudah dibuktikan dengan berbagai psikotes serta wawancara dan presentasi dengan pucuk pimpinan. Godaan untuk menempatkan dirinya dalam posisi strategis sangatlah besar. Namun, ada satu hal yang menjadi ganjalan para pimpinannya. Anak muda ini sangat sombong dan kurang menaruh respek baik kepada yang senior maupun pada tim kerjanya. Manajemen khawatir bahwa anak ini suatu saat akan meninggalkan perusahan bila ia tidak dapat membangun kerja sama dengan berbagai level di organisasinya.

Hal serupa juga dikhawatirkan oleh lembaga-lembaga pemerintah bergengsi saat sekarang. Tentunya kita dengan mudah menyalahkan kaum milenial, yang diasumsikan bertingkah laku ‘nyeleneh’ dan tidak bisa dimengerti. ODP yang sudah dipilih dengan susah payah, sekarang sering angkat kaki dan meninggalkan lembaga tanpa ragu, sekedar dengan alasan ketidacocokan dengan budaya perusahaan.

Apa yang terjadi pada perusahaan ini? Bukankah talent manajemen sudah dipraktikkan dan proses pengembangan karier sudah diakomodasikan? Mengapa talent management tidak mempan di sini? Apakah karena sistem talent management yang kurang terintegrasi?  Apa yang perlu dievaluasi kembali? Mengapa orang-orang yang tergolong Hi-Po (potensi tinggi) di saat penilaian, kemudian tidak menunjukkan prestasi yang kinclong lagi? Apakah fokus kita pada sistem pre-hire to retire masih relevan dengan keadaan sekarang? Apakah memberi peringkat para karyawan berdasarkan performa kerja sudah harus lebih difokuskan pada budaya perusahaan, engagement, lingkungan kerja, dan empowerment? Seorang ahli manajemen menuliskan : The Epic Shift is Away from “Talent” and now focus on “People.” Talent scarcity is still a problem, but engagement, empowerment, and environment are now the real issues companies face.

Seiring dengan perkembangan zaman, fokus perusahaan sudah perlu bergerak dari automasi kegiatan-kegiatan pengembangan SDM, ke integrasi, lalu ke  engagement, dan sekarang ke empowerment.

Fokus pada kemanusiaan yang utuh

Banyak ahli yang kemudian melihat adanya salah kaprah dalam istilah talent management, yang seolah-olah sama dengan proses casting artis, ataupun olahragawan. Kita mencari bibit-bibit terbaik yang bisa menjadi bintang lapangan, yang mampu memainkan karakter peran utama dengan sangat kuat. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa seorang bintang pun bisa meredup bilamana tidak mendapatkan skenario yang tepat.

Konsep hire, train, develop, dan  lead memang bagus digunakan dan terbukti mendatangkan hasil, tetapi kita jadi sering melupakan bahwa manusia dalam organisasi ini adalah manusia utuh. Setiap manusia datang bekerja dengan alasannya masing-masing. Seharusnya individu datang ke tempat kerja karena ia menyukainya dan ingin mencapai sasaran kerja yang bukan hanya penting bagi perusahaan, tapi juga penting baginya.

Gaji dan upah tidak selamanya menjadi alasan utama dalam bekerja. Setiap individu mempunyai kehidupan di luar kantor, sasaran pribadi, passion pribadinya dan sisi kreativitasnya masing-masing. Artinya, setiap individu sebenarnya tidak datang bekerja di lembaga kita karena ia tidak mempunyai pilihan lain. Bisa kita bayangkan bagaimana suasana organisasi bila individu datang bekerja karena terpaksa? Apakah mungkin ia akan berprestasi baik? Jadi, mereka sebetulnya bukanlah sekedar ‘talenta’, tetapi mereka seperti halnya pelanggan, selalu mempunyai pilihan dan kebutuhan yang dinamis.

Karyawan = pelanggan

Sudah cukup lama kita menggunakan istilah stakeholder di kegiatan-kegiatan bisnis, di mana karyawan termasuk salah satu bagiannya. Pertanyaannya, apakah benar kita memperlakukan karyawan seperti halnya kita memperlakukan pemegang saham?  Hasil penelitian menunjukkan bahwa engagement dan empowerment sudah menjadi isu terbesar dalam pengembangan SDM.  Kita sangat perlu memikirkan daya tarik perusahaan ke karyawan, sehingga karyawan tetap bergabung dan berprestasi.

Kita memang perlu memikirkan pelatihan, jabatan yang tepat, koordinasi, dan alignment, tetapi kita tak pernah boleh lupa bahwa mereka adalah free agents yang harus dipertimbangkan kesukarelaannya dalam bekerja. Penelitian terhadap 200.000  karyawan pada tahun-tahun terakhir ini, yang dilakukan oleh Rainer Strack menyatakan bahwa yang dicari oleh karyawan sekarang bukan lagi besaran gaji saja, tetapi lebih pada budaya perusahaan. Hal yang paling penting adalah penghargaan terhadap apa yang sudah mereka lakukan, hubungan baik sesama rekan kerja, work life balance, dan sikap atasan. Jadi, bisa kita lihat bahwa para smart creatives sekarang, melihat pekerjaan dengan sangat subyektif, dengan rasa.

Inilah alasan mengapa sekarang, kita sebagai professional dalam bidang Sumber daya Manusia, perlu memfokuskan perhatian pada budaya perusahaan, empowerment, dan tren kebutuhan karyawan sebagai individu. Tidak bisa lagi kita melihat manusia dari sisi talentanya saja, tetapi lebih sebagai manusia utuh dengan kebutuhan-kebutuhan personalnya masing masing. People management seyogianya lebih memperhatikan talent mobility, mengkreasi tempat kerja agar individunya tetap kreatif, bisa belajar terus, dan mengupayakan agar kerja senantiasa memiliki tantangan yang menarik.

People management sekarang perlu memperhatikan makna dari setiap pekerjaan, sasaran yang lebih transparan dan jelas, lingkungan kerja yang lebih fleksibel, kesempatan berkembang, dan rasa percaya yang mendalam antara individu dan perusahaan serta antara atasan dan bawahan. Karyawan sekarang memang sudah lebih otonom, lebih dikendalikan oleh dirinya sendiri dan bukan sistem.

 

Sumber : www.experd.com

« Back to News